Cerbung Tertanda ARW, “Yang Tersimpan”

“Kia?! Ternyata kamu biang kerok semua petaka ini ya!” lengkingan vokalnya mengikis gendang telingaku cukup dalam.

“Maafkan aku, aku terpaksa. Jika tidak, dia akan menghabisiku.” sahut gadis berambut pirang sebahu yang menggandeng jemariku dengan cincin menghiasi jarinya berukirkan huruf ‘K’.

Aku benar-benar tak paham bagaimana mengungkap bait yang ku rasa. Bibir terkunci rapat dengan sedikit getar tubuh mengganggunya. Meski senja telah sirna, tapi jingganya masih mengelabui langit gelap kali ini. Aku hanya berfikir, bagaimana caranya aku pulang dengan selamat dari kandang binatang buas seperti ini.

Perlahan ku lepas genggaman Kia lalu beranjak ke sebelah pintu. Gerak-gerik ku hampir tertangkap, tubuhku terkejut bersama dengan kesadaranku. Bibi Aini mengintaiku tak henti seperti induk kucing yang tak ingin kehilangan anaknya.

“Aini, hari sudah malam. Biarkan mereka kembali ke rumah. Besok kita bincangkan lagi.” ujar Paman Darto sembari mengusap perut Bibi Aini yang melambung melebihi tubuhnya itu.

“Apa-apaan Darto! Jangan mencoba meloloskan mereka lagi. Aku muak dengan tingkah mereka yang memalukan. Biarkan mereka menginap disini untuk malam ini.” bantah Bibi Aini dengan kedua tangannya membentuk simpul tepat di atas perut buncitnya itu.

Padahal bibi Aini sedang mengandung embrio berusia 20 pekan, tapi perlakuannya kepada kami tidak pernah berubah. Sedari menumpang hingga diusir dari rumah ini, bibi Aini selalu keras pada kami. Aku tak mengerti alasannya menyuruh kami bermalam disini, apa dia hendak mencincang kami saat kami tidur nantinya? Oh, bibi Aini andai ada orang lain yang aku miliki selainmu mungkin sudah ku terlantarkan wanita berbadan besar dengan kipas kuning kesukaannya yang melekat di genggaman tangan kirinya setiap waktu itu.

***

“Tenanglah, kakakku tidak tahu soal ini. Kita tetap aman selama Bagas masih mempercayai kita.” ucap bibi Aini yang terdengar samar dari balik pintu kamarku. Maksudku pintu kamar di rumah bibi.

Kia beranjak dari peristirahatannya menuju ruang tempat duduknya bibi Aini dan paman Darto. Perlahan aku membuntutinya untuk mencegah mereka menyakiti Kiara, adikku satu-satunya.

“Bibi masih marah perihal kemarin ya?” tanya Kia dengan polosnya.

“Tidak. Bibi sudah bilang ke Pak Bagas supaya kamu dan Kai tidak perlu bekerja di tempatnya untuk hari ini. Ia juga meminta maaf karena sudah melibatkanmu. Tugas kalian sekarang merawat bibi saja, kalian paham kan bagaimana bibi membesarkan kalian.” jawab bibi.

“Baiklah Bi” jawab Kia.

“Dan satu lagi, jangan pernah kalian mencoba menemui pria kaya itu jika kalian tidak ingin terkena masalah.”

***

Angin menyemai lekuk tubuh Kia, membelai rambut pirangnya dan bermain bersama kedipan matanya. Kia bukan gadis biasa, dia sempurna untuk ku. Hati selembut sutera yang baru ditenun dan senyuman manis tak terlupakan miliknya. Andai kalian melihatnya, ia nampak bagai mawar merah yang mulai mekar. Teramat indah. Namun, jangan tertipu pada parasnya. Meski belum genap berusia 17 tahun Kia sudah berani masuk ke agency kriminal.

Sebenarnya ini salahku, sebab sebagai sosok teladan Kia membutuhkanku sebagai pengganti Ayah dan Ibu. Bagai telur di ujung tanduk, kami tak punya pilihan lain. Semua berawal karena Ayah.

***

“Ayah, atu mau balon!” ucap bibir mungil batita berbaju merah muda itu.

“Sebentar nak ya, Ayah harus pergi. Kamu beli bersama Ibu saja.” jawab pria tampan setinggi lemari di ruang tamu kami.

“Mas, pikirkan lah dahulu. Bagaimana mungkin kau lebih memilihnya dari pada aku? 4 tahun bersama tak membuatmu yakinkah kepadaku?”

To be continued…

 

2 Comments Add yours

  1. avatar otakulocker otakulocker berkata:

    Cerbungnya keren^^ gk sabar tunghu kelanjutannya.. Oh ya, mari berkunjung ke OtakuLocker..

    Suka

  2. avatar mtrasri mtrasri berkata:

    Sukak banget sama cerbungnya..
    Makin ditambahin lagi ya kak..

    Suka

Tinggalkan Balasan ke otakulocker Batalkan balasan